Minggu, 31 Juli 2016

Selayang pandang pondok pesantren MUBTAGHAL MUJTAHIDIN Gandrirojo Sedan Rembang

Banyak orang menutup sebelah mata terhadap pendidikan pesantren. Padahal jika Pesantren di sandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, merupakan sistem pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia yang asli. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indoesia, pondok pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejak masa penyiaran agama islam di Nusantara hingga saat ini, pondok pesantren berperan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama islam (tafaquh fiddin), sekaligus berfungsi sebagai pusat penyebaran agama islam dan pusat pengembangan ilmu teknologi.
Pondok Pesantren Mubtaghal Mujtahidin didirikan karena melihat faktor yang terjadi dimasyarakat sekitar Sedan kala itu banyak masyarakat yang belum memahami betul tentang perlunya hidup beragama karena kultur yang sangat beragam.
 Diawali dari seorang anak muda yang mumpuni dalam bidang agama, cikal bakal pondok pesanten Mubtaghal Mujtahidin (MTM) mulai bersemi. Beliau adalah K.H. Dimyathi Bin H. Muslim yang mengfungsikan tempatnya sebagai sarana untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran Islam yang sangat perlu dianut oleh seluruh masyarakat agar hidupnya beradab dan berkepribadian yang terpuji.
 Pondok Pesantren Mubtaghal Mujtahidin (MTM) adalah pondok tua yang berdiri tahun 1912 oleh Syaikhina Dimyathi pencetus sekaligus pembuka tanah baru di daerah Sedan Utara Kabupaten Rembang, bersamanya adalah Sayyid Hamzah Assyatho yang berjuang di wilayah Sedan Selatan.
 Sejarah mencatat bahwa beliaulah yang memulai persejarahan pondok, atau katakanlah sebagai embrio pondok pesantren diwilayah Sedan Utara. Kemudian tongkat estafet kepemimpinan beliau diilanjutkan oleh menantu kesayangannya, asli terjan kecamatan Kragan, dialah Kiyai Mawardi yang di sandingkan dengan anak Mbah Dimyati yang bernama Hj. Nuriyah. Kepemimpinan ala pesantren berlangsung sangat lama dan santrinya yang sampai pada masa jayanya hingga ribuan, para santri yang bermukim di emperan-emperan masjid kauman Gandri hingga berjejal.
 Menjelang wafatnya, beliau memerintahkan menantunya yang bernama Kiyai Sahlan atau Kyai Samingun yang bersunting dengan Hj. Arofah, untuk menggantikan posisi beliau dimasyarakat hingga sekarang. Para santri masih terbilang ratusan (putra-putri) untuk yang mukim dipesantren, rata-rata dari wilayah jawa tengah dan jawa timur juga ada yang dari luar jawa seperti sumatera dan kalimantan. Dan mencapai ribuan jika dihitun santri yang sekolah formal setingkat MI MTs dan MA mereka rata-rata dari lokasi lingkungan sekitar pesantren radius 7 hingga 10 Kilometer.
 Lulusan pesantren khas pedesaan yang syarat akan kehidupan tradisional tidak meng-alpakan mereka untuk hidup ditengah hiruk pikuk kemodern-nan mereka tidak kikuk untuk menjalani kehidupan modern. Ada yang kembali ke desa untuk mengabdi dimasyarakat mereka mendirikan TPQ-TPQ, Madrasah Diniyah, atau lembaga formal lainnya. Selain itu, kiprah alumni juga ada yang masuk di dunia politik, pemerintahan atau bekerja diberbagai aspek kemasyarakatan. Sesuai dengan jargon ala Nahdlotul Ulama “al-muhâfadzoh alâ al-qodîm as-shôlih wal akhdz bi al-jadîdi al-ashlah”.

Pendidikan Formal
1. RA
2. MI
3. MTs
4. MA

Pendidikan Nonformal :
1. Madrasah Diniyah
2. Pengajian bakda sholat rawatib

Alamat
Jl. Kauman Masjid At Taufiq Rt.02/Rw.02 Gandrirojo Sedan Rembang 59264

sumber : https://www.laduni.id/post/read/45724/pesantren-mubtaghal-mujtahidin-rembang